Astagfirullahaladzim

Bismillah wal hamdulillah wa sholatu wa salamu ’ala man laa nabiyya ba’dah.
Kata Riya' sangat mengerikan jika dilihat dari artinya, bagaimana tidak sifat Riya masalah hati yang dapat menggugurkan amal seseorang yang menjalankan sesuatu tidak dengan keikhlasan, tetapi hanya karena ingin dilihat dan didengar orang. Riya' sendiri terbagi menjadi riya' yang terlihat dan yang tersembunyi...Ya ALLAH ampuni hambamu ini ya Allah yang mungkin tidak sempurna untuk kembali kepadaMu, entah sengaja atau tidak terkadang sikap riya' masih ada di dalam hati. Aku akan selalu berusaha untuk menghilangkannya walau akan sulit.

Berikut ada cuplikan artikel Islami mengenai Riya

Tanda riya' yang paling jelas adalah, dia merasa senang jika ada orang yang melihat ketaatannya. Berapa banyak orang yang ikhlas mengerjakan amal secara ikhlas dan tidak bermaksud riya' dan bahkan membencinya. Dengan begitu amalnya menjadi sempurna. Tapi jika ada orang-orang yang melihat dia merasa senang dan bahkan mendorong semangatnya, maka kesenangan ini dinamakan riya' yang tersembunyi. Andaikan orang-orang tidak melihatnya, maka dia tidak merasa senang. Dari sini bisa diketahui bahwa riya' itu tersembunyi di dalam hati, seperti api yang tersembunyi di dalam batu. Jika orang-orang melihatnya, maka bisa menimbulkan kesenangannya. Kesenangan ini tidak membawanya kepada hal-hal yang dimakruhkan, tapi ia bergerak dengan gerakan yang sangat halus, lalu membangkitkannya untuk menampakkan amalnya, secara tidak langsung maupun secara langsung.

Kesenangan atau riya' ini sangat tersembunyi, hampir tidak mendorongnya untuk mengatakannya, tapi cukup dengan sifat-sifat tertentu, seperti muka pucat, badan kurus, suara parau, bibir kuyu, bekas lelehan air mata dan kurang tidur, yang menunjukkan bahwa dia banyak shalat malam.

Yang lebih tersembunyi lagi ialah menyembunyikan sesuatu tanpa menginginkan untuk diketahui orang lain, tetapi jika bertemu dengan orang-orang, maka dia merasa suka merekalah yang lebih dahulu mengucapkan salam, menerima kedatangannya dengan muka berseri dan rasa hormat, langsung memenuhi segala kebutuhannya, menyuruhnya duduk dan memberinya tempat. Jika mereka tidak berbuat seperti itu, maka ada yang terasa mengganjal di dalam hati.

Orang-orang yang ikhlas senantiasa merasa takut terhadap riya' yang tersembunyi, yaitu yang berusaha mengecoh orang-orang dengan amalnya yang shalih, menjaga apa yang disembunyikannya dengan cara yang lebih ketat daripada orang-orang yang menyembunyikan perbuatan kejinya. Semua itu mereka lakukan karena mengharap agar diberi pahala oleh Allah pada Hari Kiamat.

Noda-noda riya' yang tersembunyi banyak sekali ragamnya, hampir tidak terhitung jumlahnya. Selagi seseorang menyadari darinya yang terbagi antara memperlihatkan ibadahnya kepada orang-orang dan antara tidak memperlihatkannya, maka di sini sudah ada benih-benih riya'. Tapi tidak setiap noda itu menggugurkan pahala dan merusak amal. Masalah ini harus dirinci lagi secara detail.

Telah disebutkan dalam riwayat Muslim, dari hadits Abu Dzarr Radliyallahu Anhu, dia berkata, "Ada orang yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang orang yang mengerjakan suatu amal dari kebaikan dan orang-orang memujinya?" Beliau menjawab, "Itu merupakan kabar gembira bagi orang Mukmin yang diberikan lebih dahulu di dunia."

Namun jika dia ta'ajub agar orang-orang tahu kebaikannya dan memuliakannya, berarti ini adalah riya'.
Di bawah ada hadits dari abu hurairah, diriwayatkan oleh Ibnu khuzaimah dalam shahihnya, juga oleh imam ath thabari :

Sesungguhnya Allah tabaaroka wa ta’ala pada hari kiamat akan mengadili hamba Nya, dan pada saat itu setiap hamba berlutut. Maka yang pertama kali diseru adalah seorang penghafal al qur’an, seorang yang terbunuh fi sabilillah, seorang yang memiliki banyak harta.

Allah ta’ala berfirman kepada Qoori’ : Bukankah Aku telah ajarkan kepadamu kitab Ku yang Aku turunkan kepda rasul Ku ?. Dia menjawab : Benar wahai, Rabb ku.
Allah ta’ala : Lalu apa yang kamu perbuat dengannya ?
Qoori’ : Aku berdiri (sholat) pada malam dan siang hari.
Allah Ta’ala : Engkau berdusta. Malaikatpun berkata : Engkau dusta.
Allah Ta’ala : Bahkan engkau ingin agar disebut : Fulan Qoori’. Maka sungguh telah dikatakan.
Kemudian didatangkan orang yang memiliki banyak harta,
Allahpun berfirman : Bukankah telah aku luaskan rizqimu dan tidak Aku tinggalkan apapun yang engkau butuhkan ? dia menjawab : Benar wahai Rabb ku.
Allah Ta’ala : Lalu apa yang engkau perbuat dengan apa yang telah Aku berikan ?
Hamba : Aku menjalin silaturahmi dan bersedekah. (dalam riwayat yang lain : Tidaklah aku temui satu pintu yang Engkau ridha agar aku berinfaq didalamnya kecuali aku infakkan hartaku.)
Allah Ta’ala : Engkau dusta. Malaikatpun berkata : Engkau dusta.
Allah Ta’ala : Bahkan engkau berinfaq agar manusia menyebut ; Fulan dermawan. Dan itu telah dikatakan.
..........
Allahummarzuqnaa al-ikhlaas wa al-istiqaamah wa hubba Allah wa hubba man ahabbah

0 komentar:

Poskan Komentar