Tersenyumlah


Ayo jangan berat untuk melemparkan senyum kepada saudara dan orang-orang yang mungkin kita kenal apalagi teman, namun bukan berarti harus senyam-senyum seperti orang yang kurang waras he he. Tunjukkan keceriaan dan kemurahan hati kita dengan memberi senyum. Tidak usah cemberut, menekuk muka atau sejenisnya, tetapi lemparkan senyum.


Apakah karena ada masalah yang sedang menginggapi hati? Sehingga senyum begitu sulit diberikan. Tidak ada masalah di dunia ini. Lama tidak mendapat pekerjaan., jadikan itu bukan masalah tapi berfikirlah bahwa itu terjadi karena Allah ingin memperpanjang ganjaran ibadah berjamaah ..bayangkan kalo sekarang kita sudah bekerja..mungkin banyak ibadah berjamaah tidak sempat kita lakukan. Berfikirlah positif terhadap masalah yang kita hadapi. Pastikan yang menjadi masalah saat ini hanya satu yaitu "ketika kita sadar kita tidak layak masuk surga". Masalah di dunia tidak ada apa-apanya dibanding dengan masalah ketika kita tidak yakin masuk Surga. Oleh karena itu berfikirlah bahwa kita masih bergelimang dosa dan kita harus perbanyak memohon ampunan dan perbanyak beramal.


Jadi..murahlah senyum ya ukhti ya akhi
insyaAllah apa yang aku tuliskan tidak hanya sebagai nasehat semata tetapi bisa diimplementasikan olehku sendiri ..amien

menjauhi yang haram dan yang meragukan

Assalamualaykum warrahmatullahi wabbarakatuh



Sedikit mau sharing, kemarin selepas dzuhur ada pengajian dengan topik "Subhat", sayang tidak bisa cerita banyak. Kemarin sedikit banyak menyinggung dengan dunia pekerjaan. Beberapa informasi saya cari dari beberapa sumber yang terkait dengan materi yang di dapat kemarin.



Mungkin informasi yang saya tuliskan di bawah ini bisa jadi renungan kita terutama godaan yang sering datang kepada kita. Apalagi hal-hal yang kadang masih membuat kita ragu-ragu.



Pada saat seseorang yang telah digaji untuk bekerja, maka harta apapun selain gaji menjadi harta ghulul (curang), yang menjadi landasan adalah hadits Nabi saw yang meriwayatkan ketika Nabi saw mengangkat Ibnu Utabiyah untuk menarik zakat Bani Sulaim. Setelah kembali dan menghadap Rasulullah, Ibnu Utabiyah berkata: “Ini untuk engkau dan ini adalah hadiah yang diberikan orang kepada saya, lalu Rasulullah bersabda:



Ini adalah (harta) untuk anda, dan ini (harta yang) dihadiahkan kepadaku. (Jika memang benar itu hadiah) apakah tidak sebaiknya ia duduk saja dirumah bapak atau ibunya, lalu (lihat) apakah hadiah itu akan diberikan kepadanya atau tidak?. Demi zat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, tidak akan ia membawa sesuatu melainkan dihari Kiamat nanti ia akan memikul (kesalahannya) diatas pundaknya (HR Bukhari).



Ada cuplikan tulisan teman di milis yang intinya dia menuliskan secara psikologis dan long term relationship (diluar hukum Aquran dan Alhadist) seperti ini.



“Secara psikologi seperti di kejar kejar uang/pemberian/parcel hari ini, bulan ini, atau tahun ini dll, Jadi pada saat kita sedang bekerja sudah ada setitik niat diluar keikhlasan (bekerja karena Ibadah lillahitaala) kalau nantinya ada hadian/pemberian/parcell. Dan bagi saya itu merupakan beban tersendiri karena secara tidak langsung kita sudah di permainkan oleh barang barang yang tidak tentu/pasti (kalau gaji kan sudah pasti). Dan sehari-hari kita pun akan lebih ringan melangkah tanpa adanya pikiran-pikiran tentang pemberian/parcell/refund fee dll semacamnya, yang lebih utama adalah kita menerima sesuai dengan gaji kita. Belum lagi harus sembunyi sembunyi dari teman sekantor, hanya untuk menghindari rasa iri dan dikemudian hari apabila ada yg tahu pasti akan merasa malu dan risi jadi bahan gunjingan orang”



InsyaAllah saya pribadi bisa menghadapinya, dan menjadi bahan renungan kita semua. Semoga kita dapat mengikuti kata hati. Biasanya hati akan gelisah dan resah. Kalaupun ada yang merasa hatinya tenang-tenang saja menerima, mudah-mudahan diberikan petunjuk olehNya..amien



Siapa saja yang kami beri tugas melakukan sesuatu pekerjaan dan kepadanya telah kami berikan rizki (gaji), maka yang diambil olehnya selain itu adalah kecurangan (HR Abu Dawud).

Berhati-hati dengan “Salam”

Mungkin karena kesibukan, diantara kita sering menyingkat ucapan “salam” yang arti awalnya doa keselamatan justru menjadi “cacian” dan kata “jorok”. Lho bagaimana bisa? . Mungkin kita berpikir hmm..yang pentingkan niat kita nulisnya begitu tapi niatnya ngga gitu..

Ucapan ”Assalamu’alaikum”, السلام عليكم, merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim dari Abi Hurairah)

Saya seringkali menerima sms atau e-mail dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti “Asw” atau “Aslm“. Ada yang sedikit lebih panjang seperti ; “Ass Wr Wb” atau “Aslmwrwb” . Namun yang sering saya dapatkan, adalah singkatan “Ass“. Singkatan terakhir ini paling umum dan paling sering digunakan. Bagi saya, ini adalah singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau mengerti artinya.

Marilah kita simak singkatan ini. Dalam kamus linguistik yang saya punya, arti dari kata Ass yang berasal dari bahasa Inggris itu adalah sebagai berikut;

“Ass” berarti: Pertama, kb. (animal) yang artinya keledai. Kedua, orang yang bodoh. Don’t be a silly (Janganlah sebodoh itu). Dan ketiga, Vlug (pantat).

Padahal seperti kita ketahui ucapan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh adalah sebuah ucapan salam sekaligus doa yang kita tujukan kepada orang lain. Ucapan salam dalam Islam sesungguhnya merupakan do’a seorang Muslim terhadap saudara Muslim yang lain. Maka, apabila kita mengucap salam dengan hanya menuliskan “Ass“, secara tidak sadar mungkin kita malah mendoakan hal yang buruk terhadap saudara kita.

Kita paham, mungkin banyak orang diantara kita cukup sibuk dan ingin cepat buru-buru menulis pesan. Barangkali, singkatan itu bisa mempercepat pekerjaan. Karena itu, penulis menyarankan, jika memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat SMS dengan kalimat lengkap karena sedang menyetir di jalan, misalnya, solusinya cukup mudah adalah menulis pesan to the point saja. Tulislah “met pagi, met siang, met malam dan seterusnya. Ini masih lebih baik dibandingkan kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari doa keselamatan Assalamu’alaikum menjadi “Ass” (pantat).

Jangan sampai awalnya kita ingin menyampaikan doa keselamatan yang terjadi justeru sebaliknya, mendoakan keburukan. Kalau boleh saya mengistilahkah, niat baik ingin berdoa, jadinya malah ucapan kotor.

Ucapan salam adalah ucapan penghormatan dan doa. Apabila kita dihormati dengan suatu penghormatan maka seharusnya kita membalas dengan sebuah penghormatan pula yang lebih baik, atau minimal, balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah akan memperhitungkan setiap yang kamu kerjakan.

Hasa saja, kalau kita mengganti ucapan kalimat salam arti awalnya sangat mulia, maka, yang terjadi adalah sebaliknya, salah dan bisa-bisa menjadi umpatan kotor.

Karena itu, jika tidak berhati-hati, mengganggati ucapan Assalamu’alaikum (Semoga sejahtera atasmu) dengan menyingkatnya menjadi “Ass” (pantat), ini mirip dengan mengganti doa yang baik dengan mengganti dengan bahasa jalanan orang Jakarta, yang artinya kira-kira, berubah arti menjadi (maaf) “Pantat Lu!”

Singkatan ala Rasulullah
Meski nampak sederhana, ucapan salam sudah diatur oleh agama kita (Islam). Ucapan Assalamu alaikum السلام عليكم dalam Bahasa Arab, digunakan oleh kaum Muslim. Salam ini adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW, intinya untuk merekatkan ukhuwah Islamiyah umat Muslim di seluruh dunia. Mengucapkan salam, hukumnya adalah sunnah. Sedangkan bagi yang mendengarnya, wajib untuk menjawabnya. Itulah agama kita.

Sebelum Islam datang, orang Arab terbiasa menggunakan ungkapan-ungkapan salam yang lain, seperti Hayakallah. Artinya semoga Allah menjagamu tetap hidup. Namun ketika Islam datang, ucapan itu diganti menjadi Assalamu ‘alaikum. Artinya, semoga kamu terselamatkan dari segala duka, kesulitan dan nestapa.

Ibnu Al-Arabi didalam kitabnya Al-Ahkamul Qur’an mengatakan, bahwa salam adalah salah satu ciri-ciri Allah SWT dan berarti “Semoga Allah menjadi Pelindungmu”.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Rasul bersabda, “Kamu tidak akan masuk surga hingga kamu beriman, dan kamu tidak beriman hingga kamu saling mencintai (karena Allah). Apakah kamu maujika aku tunjukkanpada satu perkara jika kamu kerjakan perkara itu maka kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu!” (HR. Muslim)

Abu Umammah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Orang yang lebih dekat kepada Allah SWT adalah yang lebih dahulu memberi Salam.” (Musnad Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi)

Abdullah bin Mas’ud RA meriwayatkan Bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah salah satu Asma Allah SWT yang telah Allah turunkan ke bumi, maka tebarkanlah salam. Ketika seseorang memberi salam kepada yang lain, derajatnya ditinggikan dihadapan Allah. Jika jama’ah suatu majlis tidak menjawab ucapan salamnya maka makhluk yang lebih baik dari merekalah (yakni para malaikat) yang menjawab ucapan salam.” (Musnad Al Bazar, Al Mu’jam Al Kabir oleh At Tabrani)

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Orang kikir yang sebenar-benarnya kikir ialah orang yang kikir dalam menyebarkan Salam.” Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisa Ayat 86. Demikianlah Allah SWT memerintahkan agar seseorang membalas dengan ucapan yang setara atau yang lebih baik.

Bedanya agama kita dengan agama lain, setiap Muslim ketika mengucapkan salam kepada saudaranya, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala).

Dalam kaidah singkat menyingkat pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah SAW, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum”. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan,” ujar beliau.

Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamu‘alaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah SAW, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum warahmatullah wa baraokatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].

Nah dari tiga singkatan itu silahkanAnda pilih yang mana yang Anda inginkan tanpa harus menyingkatnya sendiri yang justru bisa menghilangkan nilai pahalanya. Tentu saja, jangan Anda lupakan, tiga singkatan itu sudah rumus dari Nabi yang dipilihkan untuk kita.

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah ketika kita menuliskan kata Assalamu’alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf L nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu’alaikum.

Karena apa ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan “Assaamu ‘alaika ya Muhammad” (Semoga kematian dilimpahkan kepadamu).
Dan kata assaamu ini artinya kematian. Kata ini adalah plesetan dari “Assalaamu ‘alaikum“. Maka nabi berkata, “Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu ‘alaikum, maka jawablah dengan wa ‘alaikum (Dan semoga atas kalian pula).” [HR. Bukhari]

Tulisan ini, mungkin nampak sederhana. Meski sederhana, dampaknya cukup besar. Boleh jadi, kita belum pernah membayangkannya selama ini. Nah, setelah ini, sebaiknya alangkah lebih baik jika memulai kembali menyempurnakan salam kepada saudara kita. Tapi andaikata memang kondisi tak memungkinkan, sebaiknya, pilihlah singkatan yang sudah dipilihkan Nabi kita Muhammad SAW tadi. Mungkin Anda agak capek sedikit tidak apa-apa, sementara sedikit capek, 30 pahala kebaikan telah kita kantongi.
[indra yogiswara,tinggal di Jakarta/www.hidayatullah.com]


Tebarkan salam

Bismillah wal hamdulillah wa sholatu wa salamu ’ala man laa nabiyya ba’dah.
Sedikit kupasan ceramah Ustad Akhmad Saikhu pagi ini. Beliau menyampaikan intisari dari kitab hadist untuk membiasakan diri menebarkan salam. Saat ini begitu banyak nilai-nilai dalam islam yang pada hari ini semakin terasa asing bila diterapkan dalam kehidupan. Salah satu contohnya adalah menebarkan salam antar sesama saudara kita yang muslim. Jikapun mampu diterapkan, itupun hanya sebatas terucapkan pada orang-orang yang kita kenal.

Sadarkah kita bahwa setiap muslim sesungguhnya bersaudara? Mungkin banyak dari kita yang lebih akrab dengan ucapan “Selamat pagi, selamat siang, ataupun selamat malam”. Padahal ucapan-ucapan tersebut jauh dan kering dari semangat persaudaraan jika dibandingkan dengan ucapan salam dalam islam, yakni
“Assalamu’alaikum”.

Ucapan salam dalam islam sesungguhnya merupakan do’a seorang muslim terhadap saudara muslimnya. 

"Namun, janganlah jadikan ucapan salam hanya sekedar ucapan layaknya ucapan selamat pagi ataupun selamat siang, yang terucap tanpa penjiwaan serta dibarengi ruh kasih sayang dan persaudaraan di dalamnya, karena sesungguhnya Assalaam merupakan nama dari nama-nama Alloh SWT yang diletakkan di bumi. (HR. Bukhari)
"

Selain itu Ustad Akhmad Saikhu juga menekankan untuk melakukan adab-adab bertamu yang tidak lepas dari adab memberi salam, seperti firman Allah dalam surat An Nur :

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An Nur: 61)


Ustad juga menyampaikan bahwa ada sahabat yang menanyakan kepada Rasulullah, wahai Rasul perihal apa yang baik dalam islam itu? Jawaban Rasul tertulis dalam hadis di bawah ini :

Dari Abdullah bin Salam, Rosulullah bersabda, “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam di antara kalian, berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan sholatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (Shohih. Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Dari tulisan lain (aqidahislam.wordpress.com) disimpulkan secara garis besar etika salam adalah sbb :

1. Memulai salam adalah sunnah bagi setiap individu 
2. Menjawab salam hukumnya wajib, berdasarkan kesepakatan para ulama. 
3. Salam yang paling utama yaitu dengan mengucapkan Assalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh, kemudian Assalamu’alaikum warohmatulloh dan yang terakhir Assalamu’alaikum. 
4. Menjawab salam hendaknya dengan jawaban yang lebih baik, atau minimal serupa dengan yang mengucapkan.
Allah berfirman “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (An Nisa: 86) 

Imron bin Husain berkata, “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi seraya mengucapkan Assalamu ‘alaikum. Maka nabi menjawabnya dan orang itu kemudian duduk. Nabi berkata, “Dia mendapat sepuluh pahala.” Kemudian datang orang yang lain mengucapkan Assalamu ‘alaikum warohmatulloh. Maka Nabi menjawabnya dan berkata, “Dua puluh pahala baginya.” Kemudian ada yang datang lagi seraya mengucapkan Assalamu ’alaikum warohmatullohi wa barokatuh. Nabi pun menjawabnya dan berkata, “Dia mendapat tiga puluh pahala.” (Shohih. Riwayat Abu dawud, Tirmidzi dan Ahmad)

InsyaAllah kita bisa mengamalkannya, siapa lagi yang akan menghidupkan agama ini kalau bukan kita sendiri umat nabi Muhammad. Percayalah Allah masih memberikan kesempatan dunia ini karena masih adanya orang-orang mukminun yang menegakkan ajaran Islam yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rasululah.

Ibadah yang membekas

Pada hakikatnya, ibadah ritual, apa pun bentuknya, seperti yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya—mengikuti alur pemikiran kaum ulama diharapkan dapat membekas di dalam jiwa pelakunya melalui upaya-upaya peresapan nilai-nilai mulia yang terkandung di dalamnya. Tetapi, saat ini nilai-nilai yang diresapi itu juga belum melahirkan dampak positif dalam bentuk hasil nyata kemanfaatan yang bernilai lebih baik jika terbatas hanya pada perolehan kemanfaatan untuk diri sendiri. Mungkin saya dan kita semua harus berusaha semoga nilai-nilai yang telah diresapi harus diaktualisasikan ke dalam bentuk amaliah positif kehidupan nyata.

Singkat kata, ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat, atau haji, harus pula memberikan dampak positif bagi orang lain, tidak hanya bagi diri sendiri. Ibadah shalat, misalnya, jika diresapi maknanya secara lebih mendalam, lalu nilai-nilainya membekas dan diterapkan dalam kehidupan sosial, maka dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat. Inilah manfaat nyata yang disebutkan oleh Allah di dalam firman-Nya, “Dirikanlah shalat. Sesungguhnya, shalat itu mencegah keburukan dan kemungkaran.” (QS Al-‘Ankabut [29]: 45).

Dzikir dalam bentuk pujian | Subhanallah wa bihamdihi Subhanallahil adzim

Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS 33 Al Ahzab : 41)

Kesempatan berharga bagi kita untuk menambah berat timbangan amal di akhirat kelak terbuka dengan mengucapkan dzikir pujian lainnya yaitu mengucapkan subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim.

“Barangsiapa mengatakan Subhanallah wa bihamdihi” seratus kali dalam satu hari maka diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih ombak di lautan (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Diriwayatkan oleh at-Turmidzi bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan subhanallah wa bihamdihi maka akan ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga.”

Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Dua kalimat yang ringan bagi lisan untuk mengucapkannya, berat ketika diletakkan di atas mizan (timbangan di akhirat), dan sangat dicintai oleh Dzat yang Maha Pengasih, yaitu subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Dan Abu Dzar berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw amal apakah yang paling dicintai Allah swt. Beliau menjawab, ‘Yang telah dipilih Allah untuk para Malaikat-Nya, yaitu subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim.”

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari "bahwa suatu ketika datang seorang lelaki mengeluhkan keadaannya kepada Rasulullah saw. Ia berkata, “Dunia ini telah berpaling dariku dan yang telah kuperoleh dari tanganku sangatlah sedikit.” Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya, “Apakah engkau tidak pernah membaca doanya para Malaikat dan tasbihnya seluruh makhluk yang dengan itu mereka mendapat limpahan rezeki?” Lelaki itu bertanya, “Doa apakah itu wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab, “Subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim, dan beristighfarlah kepada Allah sebanyak seratus kali diantara waktu terbitnya fajar hingga menjelang waktu shalatmu, dengan itu dunia akan tunduk dan merangkak mendatangimu, dan Allah menciptakan dari setiap kalimat tersebut Malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah hingga hari kiamat dan untukmu pahalanya.”

Dzikir dalam bentuk pujian | Subhanallah

Subhanallah adalah salah satu bentuk pujian lainnya yang biasa disebut bertasbih atau Tanzi. Tasbih artinya mensucikan Allah dari segala cela dan kekurangan, mensucikan keagungan dan kekuasaanNya.h

Adapun zikir yang dimaksud di atas termasuk dari al-Baqiyatush shalihat (amalan-amalan yang kekal lagi shalih), sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih, betapa agung, sempurna dan mulianya pujian Allah terhadap dzikir yang disebut sebagai al-Baqiyatush shalihat. Allah swt berfirman :

“Dan amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS 18 Al Kahfi :46)

Dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :

“Aku berjumpa dengan Ibrahim as pada malam aku di isra`kan. Ia berkata kepadaku, ‘Wahai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada umatmu. Beritahulah kepada mereka bahwa surga tanahnya sangat subur, airnya sangat jernih dan tanaman-tanamannya adalah subhanallah walhamdu lillah wala ilaha illallah wallahu akbar’.”

Pahala Tasbih diterangkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam :

“Tidak adakah diantara kalian yang mampu untuk melakukan seribu kebaikan dalam satu hari? “Kami berkata,”Bagaimanakah itu wahai Rasulullah? “ Rasulullah saw bersabda, “bertasbihlah seratus kali makan akan ditulis bagi orang-orang yang melakukannya seribu kebaikan ataupun akan diampuni seribu keburukan darinya” (HR Muslim dan Tirdmidzi)

Tergiurkah mendapat seribu kebaikan hanya dengan seratus tasbih? InsyaAllah apa yang aku tuliskan bisa aku amalkan dan temen-temen yang baca juga mendapatkan manfaatnya untuk selanjutnya mengamalkannya..amien