Adab Makan dan minum

Pagi yang dingin waktu itu hilang dengan merapatnya tubuh jamaah mesjid yang berkumpul setengah mengelilingi ustad, biasa hal ini mereka lakukan tatkala Ustad Akhmad mulai bersiap-siapa memberikan ilmu yang didapat dari kitab hadist yang bertuliskan arab.
 
Makan berjamaah 

Sebenarnya banyak adab makan dan minum yang telah diberi contoh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Yang utama adalah membaca doa sebelum makan dan makanan adalah Halal. Selain itu Nabi menyukai makanan yang banyak tangan memakannya. Maksudnya menggunakan satu piring dengan makanan yang disantap secara bersama-sama tentu dengan adab yang telah diajarkan. Inilah yang disebut dengan makan berjamaah. Memulai makan makanan dari yang pinggir dan mengakhiri yang ditengah pun dicontohkan.


Diriwayatkan dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda, “Jika kalian makan, maka janganlah makan dari bagian tengah piring, akan tetapi hendaknya makan dari pinggir piring. Karena keberkahan makanan itu turun dibagian tengah makanan.”

ada satu hadits yang dibacakan oleh ustad Akhmad dan teringat selalu :

Dari Wahsyi bin Harb dari bapaknya dari kakeknya, “Sesungguhnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengadu, wahai Rasulullah sesungguhnya kami makan namun tidak merasa kenyang. Nabi bersabda, “Mungkin kalian makan sendiri-sendiri?” “Betul”, kata para sahabat. Nabi lantas bersabda, “Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah sebelumnya tentu makanan tersebut akan diberkahi.” (HR Abu Dawud no. 3764 dan dinilai shahih oleh al-Albani.)

Tidak duduk bersandar

Yang dimaksud duduk bersandar disini adalah segala macam jenis duduk bersandar. Ada yang bersandar ke tembok, ada pula yang bersandar pada tangan kirinya. Makan sambil duduk bersandar dimakruhkan, hal ini sejalan dengan hadist berikut:

Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau, “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.”


Ibnu Hajar mengatakan, “Jika sudah disadari bahwasanya makan sambil bersandar itu dimakruhkan atau kurang utama, maka posisi duduk yang dianjurkan ketika makan adalah dengan menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki atau dengan menegakkan kaki kanan dan menduduki kaki kiri.”

Menggunakan tangan

Baginda dan para sahabat menggunakan jari-jari untuk makan (menggunakan tangan kanan

“Menurut penyelidikan ahli medis ternyata enzym yang terdapat di sela-2 jari banyaknya 10 kali lipat dengan enzym yang ada di air liur kita. Enzym ini berguna untuk mencerna makanan. Dan setelah makan kita disunahkan untuk menjilati jari-jari kita yang dipakai untuk makan, sehingga kandungan enzym tadi akan makin cepat bercampur dengan makanan “

Dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu makan dengan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum dibersihkan.”

Jari yang digunakanpun biasanya hanya 3 jari yaitu jari jempol, telunjuk dan jari tengah. “Tidak memakan dengan dua anak jari kerana demikian adalah cara makan syaitan”

Tidak mencela makanan

Baginda Tidak pernah mencela makanan, kalau disukai dia makan dan kalau tidak disukai, ditinggalkan. 

yang dimaksud dengan mencela makanan adalah mengomentari makanan yang sedang disajikan dengan kata-kata yang menggambarkan ketidaksukaan terhadap makanan tersebut. Kata-kata yang digunakan untuk mencela dapat berupa pencelaan terhadap rasanya (asin, pahit, masam), kondisi makanan tersebut (terlalu keras, terlalu lembek, mentah), maupun hal lainnya. Seorang muslim tidak dibenarkan mencela makanan yang disajikan, meskipun keadaan makanan tersebut sesuai dengan yang dikatakannya.

Larangan mencela makanan ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang terdapat dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

Dari Abu Hurairah r.a beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai satu makanan, maka beliau memakannya. Jika beliau tidak suka, maka beliau meninggalkannya.”

Selain mencela member nama yang buruk juga tidak diajarkan. Saat ini sering kita melihat nama-nama aneh makanan yang tersedia, seperti kerupuk setan, bubur kuntilanak dan sebagainya

Tidak mengambil makanan lebih dari satu

Pada saat kita makan bersama dengan orang lain, sangat tidak dianjurkan untuk mengambil makanan lebih dari satu, tanpa seijin yang lain. Terlebih lagi jika makanan tersebut adalah milik bersama. Hal ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :

“Dari Syu’bah dari Jabalah beliau bercerita: “Kami berada di Madinah bersama beberapa penduduk Irak, ketika itu kami mengalami musim paceklik. Ibnu Zubair memberikan bantuan kepada kami berupa kurma. Pada saat itu, Ibnu Umar melewati kami sambil mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mengambil makanan lebih dari satu kecuali sesudah minta izin kepada saudaranya.”

Menjilat sisa makanan

Setiap makanan yang kita makan sebenarnya mengandung berkah. Namun tidak sekalipun kita mengerahui dimana berkah dari makanan tersebut. Agar kita tidak kehilangan berkah dari makanan tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menjilat jari-jari yang digunakan untuk makan, serta sisa makanan pada piring. Hal ini tersurat dalam hadist berikut:

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031)

Mengambil makanan yang jatuh

Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dia akan selalu mengintai manusia dalam setiap kesempatan, termasuk saat makan. Untuk menghindari ikutnya setan saat kita makan, Nabi SAW menganjurkan kita untuk membaca basmallah saat sebelum makan. Selain membaca basmallah sebelum makan, ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh kaum muslimin untuk menghindari setan ikut makan bersama kita. Hal tersebut adalah memungut makanan yang jatuh, membersihkan kotorannya, dam memakannya kembali. Perintah Rasulullah SAW ini termaktub dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad:

Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya di makan dan jangan dibiarkan untuk setan” 

Dalam riwayat yang lain dinyatakan, 

“sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah.”


Larangan bernafas dan meniup air minum

Ustad juga menjelaskan etika etika minum, dianjurkan bagi seorang muslim adalah larangan untuk bernafas pada air minum, dan meniup air minum. Begitu juga cara memegang gelas (seperti gambah di bawah). Tujuan dari larangan ini adalah menghindari jatuhnya kotoran dari hidung ke dalam air minum. Sedangkan larangan untuk meniup air minum adalah supaya air minum tersebut tidak berbau nafas, atau bercampur dengan zat karbon yang kita tiupkan.




Anjuran untuk tidak bernafas dan meniup air minum ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW berikut:

Dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian minum maka janganlah mengambil nafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)

Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk mengambil nafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Turmudzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)

Ustad juga memberikan contoh cara minum Rasul dan para sahabat yaitu jika air satu gelas yang akan diminum di bagi menjadi 2-3 tegukan dan menghindari bernapas selama bibir mendekati air dalam gelas. Sebelum meminum diajarkan untuk melihat isi gelas tersebut.

Sebenarnya banyak ajaran yang diberikan Baginda, tetapi waktu yang terbatas pagi itu hanya beberapa point ini yang aku dapatkan itupun sudah aku coba lengkapi dengan hadist-hadits yang tidak sempat diingat saat itu

Allohu A’lam Bishowab


ayo kita ikuti Sunnah Rasul

Sudah lama mempunyai keinginan keinginan untuk medokumentasikan apa yang telah diberikan oleh Ustad Akhmad Saekhu di saat sehabis sholat berjamah ataupun saat berkumpul dengan orang orang pecinta mesjid itu.
Berniat mulai saat ini mencoba untuk menuliskannya paling tidak di blog ini. Mungkin bisa aku baca-baca lagi di waktu senggang. Atau mungkin bisa berguna untuk siapapun yang mampir di blog ini. Mudah-mudahan Allah memberikan kelapangan waktu.

Sejak awal mengenal Ustad Akhmad Saekhu, sepertinya bisa aku simpulkan beliau mengajak kita semua untuk menghidupkan kembali ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Beliau selalu meminta kita kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yaitu dengan mempelajari dan mengamalkan serta berpegang teguh di atas syariat-Nya. Mulai dari urusan rumah tangga hingga ketatanegaraan. Sehingga selama seseorang itu mengikuti petunjuk dan aturan-Nya pasti dia akan selamat di dunia dan akhirat…insyaAllah.

“Barang siapa yang mengikuti sunahku, berarti dia cinta kepadaku. Dan barang siapa yang cinta kepada ku, maka akan masuk surga bersamaku”

Begitulah kutipan salah satu hadist Rasul SAW mengenai sunah. Dan didalam sunnah ada keberkahan. Singkatnya setiap amalan yang kita kerjakan bersandar kepada sunnah Rasul, maka akan mendapat 2 keuntungan yaitu pahala dan keberkahan.

Awal bertemu dengan ustad Akhmad, pembahasan yang dibahas adalah adab makan sesuai dengan sunnah rasul. Banyak hal yang baru diketahui, dan sedih selama ini mengaku beriman tetapi tidak mempunyai keingingan untuk menggali jauh seperti apa keimanan yang diharapkan oleh Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. InsyaAllah aku akan mencoba memposting secara singkat apa yang telah aku dapatkan, semoga bisa bermanfaat buat diri sendiri terutama. Syukur Alhamdulillah jika mendapat masukan dari siapapun yang ikhlas berkunjung ke blog ini. Mungkin apa yang aku tuliskan tidaklah selalu benar. Berguru dari lebih satu guru lebih baik. 

Ali bin Abi Thalib

Khalifah keempat (terakhir) dari al-Khulafa’ ar-Rasyidun (empat khalifah besar); orang pertama yang masuk Islam dari kalangan anak-anak; sepupu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam yang kemudian menjadi menantunya. Ayahnya, Abu Talib bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abd Manaf, adalah kakak kandung ayah Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, Abdullah bin Abdul Muttalib. Ibunya bernama Fatimah binti As’ad bin Hasyim bin Abd Manaf. Sewaktu lahir ia diberi nama Haidarah oleh ibunya. Nama itu kemudian diganti ayahnya dengan Ali.

Ketika berusia 6 tahun, ia diambil sebagai anak asuh oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, sebagaimana Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam pernah diasuh oleh yahnya. ada waktu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam diangkat menjadi rasul, Ali baru menginjak usia 8 tahun. Ia adalah orang kedua yang menerima dakwah Islam, setelah Khadijah binti Khuwailid, istri Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Sejak itu ia selalu bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, taat kepadanya, dan banyak menyaksikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam menerima wahyu. Sebagai anak asuh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, ia banyak menimba ilmu mengenai rahasia ketuhanan maupun segala persoalan keagamaan secara teoretis dan praktis.


Sewaktu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar as-Siddiq, Ali diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan tidur di tempat tidurnya. Ini dimaksudkan untuk memperdaya kaum Kuraisy, supaya mereka menyangka bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam masih berada di rumahnya. Ketika itu kaum quraisy merencanakan untuk membunuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Ali juga ditugaskan untuk mengembalikan sejumlah barang titipan kepada pemilik masing-masing. Ali mampu melaksanakan tugas yang penuh resiko itu dengan sebaik-baiknya tanpa sedikit pun merasa takut. Dengan cara itu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar selamat meninggalkan kota Mekah tanpa diketahui oleh kaum Kuraisy.

Setelah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dan Abu Bakar telah sampai ke Madinah, Ali pun menyusul ke sana. Di Madinah, ia dikawinkan dengan Fatimah az-Zahra, putri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang ketika itu (2 H) berusia 15 tahun. Ali menikah dengan 9 wanita dan mempunyai 19 orang putra-putri. Fatimah adalah istri pertama. Dari Fatimah, Ali mendapat dua putra dan dua putri, yaitu Hasan, Husein, Zainab, dan Ummu Kulsum yang kemudian diperistri oleh Umar bin Khattab. Setelah Fatimah wafat, Ali menikah lagi berturut-turut dengan:

Ummu Bamin binti Huzam dari Bani Amir bin Kilab, yang melahirkan empat putra, yaitu Abbas, Ja’far, Abdullah, dan Usman. Laila binti Mas’ud at-Tamimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Abdullah dan
Abu Bakar. Asma binti Umair al-Kuimiah, yang melahirkan dua putra, yaitu Yahya dan Muhammad.
As-Sahba binti Rabi’ah dari Bani Jasym bin Bakar, seorang janda dari Bani Taglab, yang melahirkan dua nak, Umar dan Ruqayyah; Umamah binti Abi Ass bin ar-Rabb, putri Zaenab binti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam, yang melahirkan satu anak, yaitu Muhammad. Khanlah binti Ja’far al-Hanafiah, yang melahirkan seorang putra, yaitu Muhammad (al-Hanafiah). Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud, yang melahirkan dua anak, yaitu Ummu al-Husain dan Ramlah. Mahyah binti Imri’ al-Qais al-Kalbiah, yang melahirkan seorang anak bernama Jariah.

Ali dikenal sangat sederhana dan zahid dalam kehidupan sehari-hari. Tidak tampak perbedaan dalam kehidupan rumah tangganya antara sebelum dan sesudah diangkat sebagai khalifah. Kehidupan sederhana itu bukan hanya diterapkan kepada dirinya, melainkanj uga kepada putra-putrinya.

Ali terkenal sebagai panglima perang yang gagah perkasa. Keberaniannya

menggetarkan hati lawan-lawannya. Ia mempunyai sebilah pedang (warisan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam) bernama “Zul Faqar”. Ia turut-serta pada hampir semua peperangan yang terjadi di masa Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dan selalu menjadi andalan pada barisan terdepan.

Ia juga dikenal cerdas dan menguasai banyak masalah keagamaan secara mendalam, sebagaimana tergambar dari sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, “Aku kota ilmu pengetahuan sedang Ali pintu gerbangnya.” Karena itu, nasihat dan fatwanya selalu didengar para khalifah sebelumnya. Ia selalu ditempatkan pada jabatan kadi atau mufti. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam wafat, Ali menunggui jenazahnya dan mengurus pemakamannya, sementara sahabat-sahabat lainnya sibuk memikirkan soal pengganti Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. Setelah Abu Bakar terpilih menjadi khalifah pengganti Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam dalam mengurus negara dan umat Islam, Ali tidak segera membaiatnya. Ia baru membaiatnya beberapa bulan kemudian.

Pada akhir masa pemerintahan Umar bin Khattab, Ali termasuk salah seorang yang ditunjuk menjadi anggota Majlis asy-Syura, suatu forum yang membicarakan soal penggantian khalifah. Forum ini beranggotakan enam orang. Kelima orang lainnya adalah Usman bin Affan, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Abdur Rahman bin Auf. Hasil musyawarah menentukan Usman bin Affan sebagai khalifah pengganti Umar bin Khattab.

Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, Ali banyak mengeritik kebijaksanaannya yang dinilai terlalu memperhatikan kepentingan keluarganya (nepotisme). Ali menasihatinya agar bersikap tegas terhadap kaum kerabatnya yang melakukan penyelewengan dengan mengatasnamakan dirinya. Namun, semua nasihat itu tidak diindahkannya. Akibatnya, terjadilah suatu peristiwa berdarah yang berakhir
dengan terbunuhnya Usman.

Kritik Ali terhadap Usman antara lain menyangkut Ubaidillah bin Umar, yang menurut Ali harus dihukum hadd (beberapa jenis hukuman dalam fikih) sehubungan dengan pembunuhan yang dilakukannya terhadap Hurmuzan. Usman juga dinilai keliru ketika ia tidak melaksanakan hukuman cambuk terhadap Walib bin Uqbah yang kedapatan mabuk. Cara Usman memberi hukuman kepada Abu Zarrah juga tidak disetujui Ali.

Usman meminta bantuan kepada Ali ketika ia sudah dalam keadaan terdesak akibat protes dan huru-hara yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak setuju kepadanya. Sebenarnya, ketika rumah Usman dikepung oleh kaum pemberontak, Ali memerintahkan kedua putranya, Hasan dan Husein, untuk membela Usman. Akan tetapi karena pemberontak berjumlah besar dan sudah kalap, Usman tidak dapat diselamatkan.

Segera setelah terbunuhnya Usman, kaum muslimin meminta kesediaan Ali untuk dibaiat menjadi khalifah. Mereka beranggapan bahwa kecuali Ali, tidak ada lagi orang yang patut menduduki kursi khalifah setelah Usman. Mendengar permintaan rakyat banyak itu, Ali berkata, “Urusan ini bukan urusan kalian. Ini adalah
perkara yang teramat penting, urusan tokoh-tokoh Ahl asy-Syura bersama para pejuang Perang Badr.”

Dalam suasana yang masih kacau, akhirnya Ali dibaiat. Pembaiatan dimulai oleh sahabat-sahabat besar, yaitu Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’d bin Abi Waqqas, dan para sahabat lainnya. Mereka diikuti oleh rakyat banyak. Pembaiatan dilakukan pada tanggal 25 Zulhijah 33 di Masjid Madinah seperti
pembaiatan para khalifah pendahulunya. Segera setelah dibaiat, Ali mengambil langkah-langkah politik, yaitu:

Memecat para pejabat yang diangkat Usman, termasuk di dalamnya beberapa

gubernur, dan menunjuk penggantinya. Mengambil tanah yang telah dibagikan Usman kepada keluarga dan kaum kerabatnya tanpa alasan kedudukan sebagai khalifah sampai terbunuh pada tahun 661.

Pemberontakan ketiga datang dari Aliran Khawarij, yang semula merupakan bagian dari pasukan Ali dalam menumpas pemberontakan Mu’awiyah, tetapi kemudian keluar dari barisan Ali karena tidak setuju atas sikap Ali yang menerima tawaran berdamai dari pihak Mu’awiyah. Karena mereka keluar dari barisan Ali, mereka disebut “Khawarij” (orang-orang yang keluar). Jumlah mereka ribuan orang. Dalam keyakinan mereka, Ali adalah amirulmukminin dan mereka yang setuju untuk bertahkim telah melanggar ajaran agama. Menurut mereka, hanya Tuhan yang berhak menentukan hukum, bukan manusia. Oleh sebab itu, semboyan mereka adalah Id hukma ilia bi Allah (tidak ada hukum kecuali bagi Allah). Ali dan sebagian pasukannya dinilai telah berani membuat keputusan hukum, yaitu berunding dengan lawan. Kelompok Khawarij menyingkir ke Harurah, sebuah desa dekat Kufah. Mereka mengangkat pemimpin sendiri, yaitu Syibis bin Rub’it at-Tamimi sebagai panglima angkatan perang dan Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin keagamaan. Di Harurah mereka segera menyusun kekuatan untuk menggempur Ali dan orang-orang yang menyetujui tahkim, termasuk di dalamnya Mu’awiyah, Amr bin As, dan Abu Musa al-Asy’ari. Kegagalan Ali dalam tahkim menambah semangat mereka untuk mewujudkan maksud mereka.

Posisi Ali menjadi serba sulit. Di satu pihak, ia ingin menghancurkan Mu’awiyah yang semakin kuat di Syam; di pihak lain, kekuatan Khawarij akan menjadi sangat berbahaya jika tidak segera ditumpas. Akhirnya Ali mengambil keputusan untuk menumpas kekuatan Khawarij terlebih dahulu, baru kemudian menyerang Syam. Tetapi tercurahnya perhatian Ali untuk menghancurkan kelompok Khawarij dimanfaatkan Mu’awiyah untuk merebut Mesir.

Pertempuran sengit antara pasukan Ali dan pasukan Khawarij terjadi di Nahrawan (di sebelah timur Baghdad) pada tahun 658, dan berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Kelompok Khawarij berhasil dihancurkan, hanya sebagian kecil yang dapat meloloskan diri. Pemimpin mereka, Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi, ikut terbunuh.

Sejak itu, kaum Khawarij menjadi lebih radikal. Kekalahan di Nahrawan menumbuhkan dendam di hati mereka. Secara diam-diam kaum Khawarij merencanakan untuk membunuh tiga orang yang dianggap sebagai biang keladi perpecahan umat, yaitu Ali, Mu’awiyah, dan Amr bin As. Pembunuhnya ditetapkan tiga orang, yaitu: Abdur Rahman bin Muljam ditugaskan membunuh Ali di Kufah, Barak bin Abdillah at-Tamimi ditugaskan membunuh Mu’awiyah di Syam, dan Amr bin Bakar at-Tamimi ditugaskan pembunuh Amr bin As di Mesir. Hanya Ibnu Muljam yang berhasil menunaikan tugasnya. Ia menusuk Ali dengan pedangnya ketika Ali akan salat subuh di Masjid Kufah. Ali mengembuskan napas terakhir setelah memegang tampuk pimpinan sebagai khalifah selama lebih-kurang 4 tahun.

http://ahlulhadist.wordpress.com/

Mimpi itu..


Teringat lagi dan ingin rasanya menuangkan dalam tulisan ini. dua hari yang lalu malamnya sempet bermimpi, dan ngga tau persis takwilnya. Intinya mimpi itu seperti ini :

aku dihadapkan pada suatu kondisi dimana saat itu beberapa orang yang bersamaku sedang mengantarkan seseorang yang sudah saatnya untuk menghadap Allah SWT (diambil ruhnya). Terlihat jelas muka yang penuh ketakutan dari orang yang akan dicabut nyawanya itu. Jeritan pelan pun terdengar dari mulutnya dengan mata yang memandang sekelilingnya berharap bisa membantunya. Kejadianpun berulang untuk orang berikutnya. Tidak jelas apakah di hari yang berbeda atau secara berurutan. Suasana yang sama samapun terlihat. Rasa takut terlihat jelas di muka orang tersebut.

Setelah itu aku lupa mimpi selanjutnya. itupun teringat ketika beranjak akan mandi sebelum sholat shubuh. Selama mandi pikiran di kepalapun tak henti membayangkan dan mencoba mengartikan hikmah dari mimpi itu. Teringat kalimat yang pernah dibaca, mimpi yang bagus datangnya dari Allah, mimpi yang buruk datangnya dari Setan. Akhirnya aku mencoba untuk menyimpulkan sendiri :

Seandainya manusia itu sudah ditentukan kematiannya, dan dia telah mempersiapkan begitu rupa, mungkin keyakinan akan pasti masuk surgapun masih menjadi pertanyaan dalam dirinya. Apakah nilai keikhlasan amalan yang telah dipersiapkan benar akan menolongnya.

Sekarang aku yang sama sekali tidak tahu kapan kematian itu akan menjemputku, masih belum benar-benar mempersiapkan diri untuk bekal menyambut kematian itu. Padahal kapanpun kematian itu bisa datang menjemput. Ya Allah berilah kami petunjuk dan tetap istiqomah..

Allahummarzuqnaa al-ikhlaas wa al-istiqaamah wa hubba Allah wa hubba man ahabbah " Ya Allah, karuniailah kami keikhlasan, istiqaamah, mencintai Allah, dan orang-orang yang mencintaiNYA

Hanya Allah yang tau arti mimpi itu


Ayo mencintai mesjid


Mesjid-mesjid itu menjerit, memanggil-manggil
Mana orang-orang yang sholat..
Apakah mereka mendengar panggilanku? Atau....
Mereka sedang bermesraan dengan dunia?

Bukankah dunia mirip bayang-bayang, dikejar untuk digapai, ternyata takkan pernah sampai?
Mesjid-mesjid itu menjerit, memanggil-manggil..
Mana orang-orang yang shalat..
Apakah mereka mendengar panggilanku?

Berdiri dalam barisan yang rapi...penuh ketundukan dan kecintaan ..

Tatkala..hati telah dipenuhi kecintaan terhadap Surga, maka kecillah nilai dunia. Dan ringanlah menyambut seruanNya


Aku meminta kepada Allah

Aku meminta kepada Allah untuk menyingkirkan penderitaanku.

Mungkin Allah menjawab, Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.


Aku meminta kepada Allah untuk menyempurnakan kecacatanku.

Mungkin Allah menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.


Aku meminta kepada Allah untuk menghadiahkanku kesabaran.

Mungkin Allah menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.


Aku meminta kepada Allah untuk memberiku kebahagiaan.

Allah menjawab, Tidak.

Aku memberimu berkah. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.


Aku meminta kepada Allah untuk menjauhkan penderitaan.

Mungkin Allah menjawab, Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.


Aku meminta kepada Allah untuk menumbuhkan rohku.

Mungkin Allah menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkasnya untuk membuatmu berbuah.


Aku meminta kepada Allah segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.

Mungkin Allah menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.


Aku meminta kepada Allah membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.

Mungkin Allah menjawab.. akhirnya kau mengerti.



Richard Leiman: Al-Quran Membimbingku




Richard Leiman, seorang Yahudi AS, sejak kecil sering mendengarkan siaran BBC World Services terutama siaran tentang Timur Tengah. Dari BBC, ia bukan hanya sering mendengarkan lagu-lagu khas Timur Tengah yang digemarinya tapi juga lantunan ayat-ayat suci al-Quran. Tapi ketika itu, Leiman kecil belum paham tentang al-Quran apalagi mengenal Islam.

"Ketika saya dewasa, saya masih mendengarkan BBC World Service. Di BBC, setiap hari ada acara yang namanya 'Words of Faith', isinya ceramah pendek antara lima sampai delapan menit dari para pemuka agama yang mewakili lima agama yang ada di Inggris Raya. Dari seluruh penceramah, yang paling saya sukai ceramah-ceramah dari para pemuka agama Islam," ujar Leiman.



"Tiap kali perwakilan dari Muslim bicara, saya merasa ingin tahu lebih jauh tentang Islam. Kesan saya tentang Islam, bahwa orang yang memeluk agama Islam adalah orang yang hidupnya bahagia. Orang Islam tidak seperti orang yang digambarkan oleh media massa Amerika. Saya menolak percaya apa yang digambarkan media massa AS tentang umat Islam yang begitu mencintai Allah. Dan karena latar belakang saya Yahudi, satu hal yang menyatukan saya dengan Islam adalah keyakinan bahwa Allah itu satu," papar Leiman.

Pertemuan Pertama dengan Muslim

Meski tinggal di AS, Leiman mencari pekerjaan sampai di Inggris dan sempat tinggal beberapa waktu di Inggris untuk mencari peluang kerja. Leiman kembali ke AS karena tidak mendapatkan pekerjaan, tapi tetap rajin menulis lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan di Inggris yang alamatnya ia dapatkan dari sebuah majalah yang diberikan sebuah agensi tenaga kerja di Inggris.

Usaha Leiman yang ahli dalam bidang program komputer ini membuahkan hasil. Ia diterima bekerja di perusahaan Logo Tech. Di perusahaan inilah ia bertemu dengan seorang Muslim untuk pertama kalinya. Nama Muslim itu Anis Karim yang juga supervisor di tempatnya bekerja.

Pada Karim, Leiman bertanya dimana ia bisa mendapatkan al-Quran dengan terjemahan. Tanpa disangka, beberapa hari kemudian, Karim memberikannya sebuah al-Quran. Karim juga meminta Leiman agar dalam keadaan bersih, paling tidak mandi dulu sebelum membaca al-Quran. "Tapi saya tidak pernah menunjukkan al-Quran itu pada orang lain, khawatir mereka menghina saya jika terlihat membaca al-Quran," kata Leiman.

Setelah mendapatkan al-Quran dari Karim, keesokan harinya Leiman langsung membaca terjemahan al-Quran setelah ia mandi dan sarapan pagi. "Saya menemukan perintah "bacalah", perintah Allah pada Malaikat Jibril untuk disampaikan pada Rasulullah Muhammad saw, meskipun Rasulullah tidak bisa membaca dan menulis," tutur Leiman menceritakan pengalaman pertamanya membaca al-Quran.

Saat itu sekitar tahun 1990-an. Leiman merasakan ketertarikan yang luar biasa pada Islam meski ia baru membaca 10 halanam al-Quran. "Sulit menjelaskan dengan kata-kata. Saya baru membaca 10 halaman, pada titik itu, hati kecil saya berkata, inilah agama buat saya. Makin banyak saya baca, saya makin penasaran dan makin menyukai apa yang saya baca," ujar Leiman.

Tapi pengetahuan Leiman baru sampai sebatas itu. Leiman belum tahu lebih detil tentang Islam bahkan tentang salat. Leiman cuma tahu orang Islam sujud ketika salat. Namun, tiap kali Karim mengajaknya pergi ke masjid di London, Leiman selalu ikut. Dari situ ia tahu bahwa umat Islam menunaikan salat lima waktu sehari semalam dan Leiman mulai mencoba salat pada malam hari sebelum ia tidur dan pada pagi hari, saat ia bangun.

Sayangnya, persahabat Leiman dan Karim berakhir karena ijin kerjanya di Inggris habis dan Leiman harus kembali ke AS.

Menjadi Seorang Muslim

Di AS, Leiman menganggur untuk beberapa tahun dan akhirnya ia pergi ke Huntsville, Alabama ke tempat ayahnya. Di kota inilah, Leiman menemukan kembali jejak Islam yang pernah ia pelajari ketika di Inggris.

Berawal dari rencananya berkunjung ke Indonesia bersama saudara perempuannya. Saudara perempuan Leiman memintanya membantu mencarikan perhiasan khas Islam yang akan diberikan pada sahabatnya di Indonesia. Leiman tidak tahu apakah di kotanya ada komunitas Muslim. Ia kemudian ingat ada sebuah toko bernama Crescent Import yang dikiranya dimiliki oleh Muslim, tapi ternyata bukan.

"Tapi Allah memberi petunjuk pada saya. Saya berbincang dengan pemilik toko dan ia memberitahu saya agar datang saja ke Huntsville Islamic Center jika ingin mencari perhiasan khas Islam," imbuhnya.

Leiman mengaku bersyukur pada Tuhan yang telah mengarahkannya ke masjid. "Saya agak takut masuk ke tempat itu untuk bertemu imamnya karena buat saya masjid adalah tempat suci. Tapi tiba-tiba saya ingat pernah bertemua seorang perempuan berjilbab dan bertanya tentang Islam. Perempuan itu juga menyuruh saya ke tempat ini. Saat itulah saya punya keberanian masuk ke masjid," tutur Leiman.

Ia berhasil menjumpai imam masjid, yang mengundangnya untuk ikut salat berjamaah. Inilah titik perubahan hidup Leiman. Ia mulai rutin datang ke masjid setiap seminggu sekali pada malam hari. Makin sering ia datang, makin kuat dorongan untuk ikut salat di masjid. Akhirnya, hampir tiap waktu salat Leiman menunaikan salatnya di masjid kecuali saat Ashar dan Magrib karena saat itu ia masih berada di kantor.

Bulan November 1996, Leiman baru secara terbuka mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang Muslim. Sejak itu, ia selalu salat Dzuhur dan Ashar sendirian atau berjamaah dengan sesama Muslim lainnya di sebuha masjid kecil di dekat tempatnya bekerja.

"Saya dengan bangga membawa sejadah saat berjalan di lorong kantor, dan menjawab pertanyaan setiap orang yang bertanya apa yang saya bawa. Setiap orang bertanya, saya jawab bahwa saya adalah seorang Muslim dan yang saya bawa adalah sajadah untuk alas salat," ujar Leiman bangga.

"Di meja kerja, saya juga menempelkan beberapa hiasan islami, termasuk di komputer saya yang selalu menggunakan gambar latar Ka'bah atau masjid," sambungnya.

"Sekarang saya seorang Muslim, saya tidak mau kembali ke masa saya menjadi seorang non-Muslim!" tandas Leiman. (ln/readingislam/iol)~ eramuslim.com